Navigasi Utama

Hari Tani Nasional: Membangun Pertanian, Jangan Hanya Membangun Produksi

  • admin
  • Thursday, 24 September 2026
  • 27x dibaca

Setiap 24 September, kita memperingati Hari Tani Nasional. Pada hari ini, berbagai ucapan tentang jasa petani, ketahanan pangan, dan pentingnya pembangunan pertanian kembali terdengar. Petani disebut sebagai tulang punggung bangsa. Namun, setelah perayaan berakhir, pertanyaan yang lebih penting justru sering terlewat: apakah pembangunan pertanian selama ini benar-benar membuat kehidupan petani menjadi lebih baik?

 

Pertanyaan tersebut penting karena keberhasilan pertanian tidak semestinya hanya diukur dari luas lahan yang ditanami, jumlah produksi yang meningkat, atau berapa banyak komoditas yang berhasil dipanen. Ukuran yang tidak kalah penting adalah apakah petani memperoleh pendapatan yang layak, memiliki kepastian atas lahan yang digarap, mendapatkan akses terhadap teknologi dan pasar, serta memiliki masa depan yang menjanjikan bagi keluarganya.

 

Jika petani terus berada pada posisi yang lemah dalam rantai ekonomi pertanian, maka peningkatan produksi saja belum cukup untuk disebut sebagai keberhasilan pembangunan pertanian.

 

Petani Jangan Hanya Dipandang sebagai Penghasil Pangan

 

Selama ini petani sering ditempatkan sebagai aktor utama dalam menjaga ketahanan pangan. Namun, dalam praktiknya, petani tidak selalu menjadi pihak yang paling diuntungkan dari rantai perdagangan pangan.

 

Petani menanggung risiko produksi: cuaca buruk, serangan hama, kenaikan harga pupuk dan benih, keterbatasan modal, hingga ketidakpastian hasil panen. Setelah panen, mereka kembali menghadapi persoalan harga dan akses pasar.

 

Di sinilah terdapat persoalan mendasar. Kita menginginkan pangan tersedia dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat, tetapi pada saat yang sama petani juga harus memperoleh harga yang memungkinkan mereka hidup layak. Jika persoalan ini hanya diselesaikan dengan menekan harga di tingkat petani, maka beban ketahanan pangan pada akhirnya justru ditanggung oleh petani.

 

Karena itu, kebijakan pertanian perlu melihat petani bukan sekadar sebagai produsen komoditas, tetapi sebagai manusia yang memiliki kebutuhan ekonomi, sosial, dan hak untuk memperoleh kehidupan yang layak.

 

Jangan Terjebak pada Angka Produksi

 

Pembangunan pertanian sering kali sangat akrab dengan angka: peningkatan produksi, produktivitas per hektare, luas tanam, luas panen, dan berbagai indikator lainnya. Semua itu penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran.

 

Apa artinya produksi meningkat apabila biaya produksi juga terus meningkat dan keuntungan petani tidak bertambah secara berarti?

Apa artinya ketahanan pangan apabila generasi muda di desa justru tidak melihat pertanian sebagai pekerjaan yang memiliki masa depan?

 

Dan apa artinya pembangunan pertanian jika petani semakin sulit mengakses lahan produktif?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu dibicarakan secara terbuka. Sebab, persoalan pertanian bukan hanya persoalan teknis mengenai bagaimana menghasilkan lebih banyak pangan. Pertanian juga merupakan persoalan ekonomi, sosial, tata ruang, kepemilikan lahan, distribusi keuntungan, dan keberlanjutan lingkungan.

 

Teknologi Penting, Tetapi Bukan Jawaban untuk Semua Masalah

 

Digitalisasi dan modernisasi pertanian sering disebut sebagai solusi masa depan. Teknologi memang dapat membantu meningkatkan efisiensi, menyediakan informasi cuaca, memperbaiki sistem budidaya, membuka akses pasar, dan mengurangi pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual.

Namun, teknologi tidak boleh menjadi jargon yang menutupi persoalan mendasar.

 

Petani yang tidak memiliki modal cukup, misalnya, belum tentu mampu mengadopsi teknologi baru. Petani yang kesulitan memperoleh pupuk atau akses pasar juga tidak otomatis terbantu hanya karena tersedia aplikasi digital.

 

Karena itu, modernisasi pertanian harus dimulai dari kebutuhan nyata petani. Teknologi harus menjadi alat untuk menyelesaikan persoalan, bukan sekadar simbol bahwa sektor pertanian telah menjadi modern.

 

Regenerasi Petani Tidak Bisa Hanya dengan Ajakan

 

Kita sering mendengar kekhawatiran mengenai semakin sedikitnya anak muda yang ingin menjadi petani. Namun, kita perlu jujur bertanya: mengapa mereka tidak tertarik?

Tidak adil jika generasi muda hanya diminta kembali ke sektor pertanian tanpa memperbaiki kondisi yang membuat pekerjaan tersebut kurang menarik.

 

Anak muda tentu membutuhkan kepastian pendapatan, akses terhadap modal, penguasaan teknologi, peluang mengembangkan usaha, dan kepastian terhadap lahan. Mereka juga ingin melihat bahwa bertani dapat menjadi profesi yang membanggakan sekaligus memberikan kehidupan yang layak.

 

Karena itu, regenerasi petani bukan sekadar program pelatihan atau pembagian alat pertanian. Regenerasi harus dibangun melalui ekosistem yang membuat anak muda memiliki alasan ekonomi dan sosial untuk memilih pertanian.

 

Pertanian Harus Memberikan Nilai Tambah kepada Petani

 

Salah satu kelemahan yang perlu terus dibenahi adalah posisi petani dalam rantai nilai. Banyak petani menjual hasil dalam bentuk bahan mentah, sementara nilai ekonomi yang lebih besar justru tercipta pada tahap pengolahan, pengemasan, distribusi, dan pemasaran.

Di sinilah koperasi, kelompok tani, badan usaha milik petani, dan berbagai bentuk kelembagaan ekonomi lainnya dapat memainkan peran penting.

 

Petani seharusnya tidak hanya menjadi pihak yang memproduksi, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengambil bagian dalam proses pascapanen dan pemasaran. Semakin besar nilai tambah yang dapat dinikmati petani, semakin besar pula peluang peningkatan kesejahteraannya.

 

Pertanian dan Lingkungan Tidak Boleh Dipertentangkan

 

Pembangunan pertanian juga menghadapi tantangan perubahan iklim dan tekanan terhadap sumber daya alam. Produktivitas memang penting, tetapi mengejar produksi dengan mengabaikan kesehatan tanah, ketersediaan air, dan keseimbangan ekosistem justru dapat menciptakan masalah baru.

 

Pertanian berkelanjutan bukan berarti menolak modernisasi. Sebaliknya, keberlanjutan harus menjadi bagian dari modernisasi itu sendiri.

 

Petani membutuhkan pengetahuan dan teknologi yang memungkinkan mereka menghasilkan pangan secara produktif tanpa merusak sumber daya yang akan digunakan oleh generasi berikutnya.

 

Hari Tani Harus Menjadi Momentum Evaluasi

 

Hari Tani Nasional seharusnya tidak berhenti pada seremoni dan penghargaan terhadap petani. Hari ini semestinya menjadi momentum untuk mengevaluasi arah pembangunan pertanian secara lebih jujur.

 

Kita perlu bertanya: apakah kebijakan yang dibuat benar-benar sampai kepada petani? Apakah petani memiliki posisi tawar yang cukup? Apakah keuntungan dalam rantai pangan terdistribusi secara adil? Apakah anak muda memiliki masa depan di sektor pertanian? Dan apakah pembangunan pertanian hari ini meninggalkan sumber daya alam yang masih produktif untuk generasi mendatang?

 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak selalu mudah dijawab. Namun, justru dari pertanyaan kritis itulah kebijakan yang lebih baik dapat lahir.

 

Membangun pertanian pada akhirnya bukan sekadar membangun produksi. Membangun pertanian berarti membangun kehidupan petani.

 

Jika petani sejahtera, desa memiliki kehidupan ekonomi yang kuat. Jika desa kuat, ketahanan pangan menjadi lebih kokoh. Dan jika pertanian dibangun secara berkelanjutan, bangsa ini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan hari ini, tetapi juga memiliki fondasi untuk menghadapi tantangan di masa depan.

 

Maka pada Hari Tani Nasional ini, barangkali sudah waktunya kita mengubah cara pandang: jangan hanya bertanya “berapa banyak pangan yang dapat diproduksi petani?”, tetapi juga bertanya “seberapa layak kehidupan yang dapat dibangun petani dari pekerjaannya?”

 

Sebab, ukuran paling manusiawi dari keberhasilan pembangunan pertanian bukan hanya banyaknya hasil panen, melainkan apakah orang yang menghasilkan pangan tersebut dapat hidup sejahtera, bermartabat, dan memiliki masa depan.

Tag Terkait
  • Tidak ada tag terkait.

Berita Terkait

Belum ada berita terkait.

Komentar

Link berhasil disalin!
+