Setiap 24
September, kita memperingati Hari Tani Nasional. Pada hari ini, berbagai ucapan
tentang jasa petani, ketahanan pangan, dan pentingnya pembangunan pertanian
kembali terdengar. Petani disebut sebagai tulang punggung bangsa. Namun,
setelah perayaan berakhir, pertanyaan yang lebih penting justru sering
terlewat: apakah pembangunan pertanian selama ini benar-benar membuat
kehidupan petani menjadi lebih baik?
Pertanyaan
tersebut penting karena keberhasilan pertanian tidak semestinya hanya diukur
dari luas lahan yang ditanami, jumlah produksi yang meningkat, atau berapa
banyak komoditas yang berhasil dipanen. Ukuran yang tidak kalah penting adalah
apakah petani memperoleh pendapatan yang layak, memiliki kepastian atas lahan yang
digarap, mendapatkan akses terhadap teknologi dan pasar, serta memiliki masa
depan yang menjanjikan bagi keluarganya.
Jika petani
terus berada pada posisi yang lemah dalam rantai ekonomi pertanian, maka
peningkatan produksi saja belum cukup untuk disebut sebagai keberhasilan
pembangunan pertanian.
Petani
Jangan Hanya Dipandang sebagai Penghasil Pangan
Selama ini
petani sering ditempatkan sebagai aktor utama dalam menjaga ketahanan pangan.
Namun, dalam praktiknya, petani tidak selalu menjadi pihak yang paling
diuntungkan dari rantai perdagangan pangan.
Petani
menanggung risiko produksi: cuaca buruk, serangan hama, kenaikan harga pupuk
dan benih, keterbatasan modal, hingga ketidakpastian hasil panen. Setelah
panen, mereka kembali menghadapi persoalan harga dan akses pasar.
Di sinilah
terdapat persoalan mendasar. Kita menginginkan pangan tersedia dengan harga
yang terjangkau bagi masyarakat, tetapi pada saat yang sama petani juga harus
memperoleh harga yang memungkinkan mereka hidup layak. Jika persoalan ini hanya
diselesaikan dengan menekan harga di tingkat petani, maka beban ketahanan
pangan pada akhirnya justru ditanggung oleh petani.
Karena itu,
kebijakan pertanian perlu melihat petani bukan sekadar sebagai produsen
komoditas, tetapi sebagai manusia yang memiliki kebutuhan ekonomi, sosial, dan
hak untuk memperoleh kehidupan yang layak.
Jangan
Terjebak pada Angka Produksi
Pembangunan
pertanian sering kali sangat akrab dengan angka: peningkatan produksi,
produktivitas per hektare, luas tanam, luas panen, dan berbagai indikator
lainnya. Semua itu penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran.
Apa artinya
produksi meningkat apabila biaya produksi juga terus meningkat dan keuntungan
petani tidak bertambah secara berarti?
Apa artinya
ketahanan pangan apabila generasi muda di desa justru tidak melihat pertanian
sebagai pekerjaan yang memiliki masa depan?
Dan apa
artinya pembangunan pertanian jika petani semakin sulit mengakses lahan
produktif?
Pertanyaan-pertanyaan
tersebut perlu dibicarakan secara terbuka. Sebab, persoalan pertanian bukan
hanya persoalan teknis mengenai bagaimana menghasilkan lebih banyak pangan.
Pertanian juga merupakan persoalan ekonomi, sosial, tata ruang, kepemilikan
lahan, distribusi keuntungan, dan keberlanjutan lingkungan.
Teknologi
Penting, Tetapi Bukan Jawaban untuk Semua Masalah
Digitalisasi
dan modernisasi pertanian sering disebut sebagai solusi masa depan. Teknologi
memang dapat membantu meningkatkan efisiensi, menyediakan informasi cuaca,
memperbaiki sistem budidaya, membuka akses pasar, dan mengurangi pekerjaan yang
sebelumnya dilakukan secara manual.
Namun,
teknologi tidak boleh menjadi jargon yang menutupi persoalan mendasar.
Petani yang
tidak memiliki modal cukup, misalnya, belum tentu mampu mengadopsi teknologi
baru. Petani yang kesulitan memperoleh pupuk atau akses pasar juga tidak
otomatis terbantu hanya karena tersedia aplikasi digital.
Karena itu,
modernisasi pertanian harus dimulai dari kebutuhan nyata petani. Teknologi
harus menjadi alat untuk menyelesaikan persoalan, bukan sekadar simbol bahwa
sektor pertanian telah menjadi modern.
Regenerasi
Petani Tidak Bisa Hanya dengan Ajakan
Kita sering
mendengar kekhawatiran mengenai semakin sedikitnya anak muda yang ingin menjadi
petani. Namun, kita perlu jujur bertanya: mengapa mereka tidak tertarik?
Tidak adil
jika generasi muda hanya diminta kembali ke sektor pertanian tanpa memperbaiki
kondisi yang membuat pekerjaan tersebut kurang menarik.
Anak muda
tentu membutuhkan kepastian pendapatan, akses terhadap modal, penguasaan
teknologi, peluang mengembangkan usaha, dan kepastian terhadap lahan. Mereka
juga ingin melihat bahwa bertani dapat menjadi profesi yang membanggakan
sekaligus memberikan kehidupan yang layak.
Karena itu,
regenerasi petani bukan sekadar program pelatihan atau pembagian alat
pertanian. Regenerasi harus dibangun melalui ekosistem yang membuat anak muda
memiliki alasan ekonomi dan sosial untuk memilih pertanian.
Pertanian
Harus Memberikan Nilai Tambah kepada Petani
Salah satu
kelemahan yang perlu terus dibenahi adalah posisi petani dalam rantai nilai.
Banyak petani menjual hasil dalam bentuk bahan mentah, sementara nilai ekonomi
yang lebih besar justru tercipta pada tahap pengolahan, pengemasan, distribusi,
dan pemasaran.
Di sinilah
koperasi, kelompok tani, badan usaha milik petani, dan berbagai bentuk
kelembagaan ekonomi lainnya dapat memainkan peran penting.
Petani
seharusnya tidak hanya menjadi pihak yang memproduksi, tetapi juga memiliki
kesempatan untuk mengambil bagian dalam proses pascapanen dan pemasaran.
Semakin besar nilai tambah yang dapat dinikmati petani, semakin besar pula
peluang peningkatan kesejahteraannya.
Pertanian
dan Lingkungan Tidak Boleh Dipertentangkan
Pembangunan
pertanian juga menghadapi tantangan perubahan iklim dan tekanan terhadap sumber
daya alam. Produktivitas memang penting, tetapi mengejar produksi dengan
mengabaikan kesehatan tanah, ketersediaan air, dan keseimbangan ekosistem
justru dapat menciptakan masalah baru.
Pertanian
berkelanjutan bukan berarti menolak modernisasi. Sebaliknya, keberlanjutan
harus menjadi bagian dari modernisasi itu sendiri.
Petani
membutuhkan pengetahuan dan teknologi yang memungkinkan mereka menghasilkan
pangan secara produktif tanpa merusak sumber daya yang akan digunakan oleh
generasi berikutnya.
Hari Tani
Harus Menjadi Momentum Evaluasi
Hari Tani
Nasional seharusnya tidak berhenti pada seremoni dan penghargaan terhadap
petani. Hari ini semestinya menjadi momentum untuk mengevaluasi arah
pembangunan pertanian secara lebih jujur.
Kita perlu
bertanya: apakah kebijakan yang dibuat benar-benar sampai kepada petani? Apakah
petani memiliki posisi tawar yang cukup? Apakah keuntungan dalam rantai pangan
terdistribusi secara adil? Apakah anak muda memiliki masa depan di sektor
pertanian? Dan apakah pembangunan pertanian hari ini meninggalkan sumber daya
alam yang masih produktif untuk generasi mendatang?
Pertanyaan-pertanyaan
tersebut tidak selalu mudah dijawab. Namun, justru dari pertanyaan kritis
itulah kebijakan yang lebih baik dapat lahir.
Membangun
pertanian pada akhirnya bukan sekadar membangun produksi. Membangun
pertanian berarti membangun kehidupan petani.
Jika petani
sejahtera, desa memiliki kehidupan ekonomi yang kuat. Jika desa kuat, ketahanan
pangan menjadi lebih kokoh. Dan jika pertanian dibangun secara berkelanjutan,
bangsa ini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan hari ini, tetapi juga
memiliki fondasi untuk menghadapi tantangan di masa depan.
Maka pada
Hari Tani Nasional ini, barangkali sudah waktunya kita mengubah cara pandang:
jangan hanya bertanya “berapa banyak pangan yang dapat diproduksi petani?”,
tetapi juga bertanya “seberapa layak kehidupan yang dapat dibangun petani
dari pekerjaannya?”
Sebab,
ukuran paling manusiawi dari keberhasilan pembangunan pertanian bukan hanya
banyaknya hasil panen, melainkan apakah orang yang menghasilkan pangan tersebut
dapat hidup sejahtera, bermartabat, dan memiliki masa depan.